Mendekonstruksi Dikotomi Pendidikan: Harmonisasi Adab di Pesantren dan Sekolah
Dunia pendidikan kita sering kali terjebak dalam dikotomi yang tidak perlu: pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Fenomena ini melahirkan tantangan unik bagi para pendidik di sekolah formal, di mana sebagian murid yang juga mengenyam pendidikan di pesantren (santri) cenderung menomorduakan guru sekolah. Ada anggapan implisit bahwa ketaatan dan adab (ta’dzim) hanya wajib diberikan kepada kyai atau ustadz di pesantren, sementara guru di sekolah hanyalah pemberi materi teknis demi selembar ijazah. Padahal, jika kita merujuk pada esensi pencarian ilmu, adab tidak mengenal sekat dinding bangunan.
Secara filosofis, guru—baik di pesantren maupun di sekolah—memiliki posisi setara sebagai "jembatan cahaya". Guru di pesantren memberikan fondasi moral, spiritual, dan hukum Tuhan yang menjadi kompas hidup. Sementara itu, guru di sekolah memberikan alat, logika, dan keterampilan bagi murid untuk mengelola dunia. Tanpa kompas, seseorang akan tersesat; namun tanpa alat, seseorang akan lumpuh dalam menebar manfaat. Maka, meremehkan salah satunya adalah bentuk pengerdilan terhadap hakikat ilmu itu sendiri.
Dalam tradisi pesantren, konsep berkah adalah hal yang sangat sakral. Seorang santri diajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat hanya bisa didapat jika pengajarnya memberikan rida. Namun, sering kali terjadi miskonsepsi di mana rida ini hanya dikejar di lingkungan pesantren. Padahal, setiap lisan yang mengajarkan kebaikan, baik itu rumus fisika, tata bahasa, maupun sejarah, adalah lisan yang sedang menunaikan tugas profetik sebagai pendidik. Bagaimana mungkin seorang murid mengharap keberkahan ilmu agama di pesantren, sementara ia menutup pintu keberkahan itu di sekolah dengan perilaku yang kurang beradab?
Masalah ini sebenarnya berakar pada cara kita memandang "ilmu umum". Jika ilmu umum dipandang sebagai sesuatu yang sekuler atau terpisah dari ibadah, maka pengajarnya pun akan dipandang sebagai "pegawai" belaka, bukan "mursyid" (pembimbing). Padahal, setiap ilmu yang bermanfaat bagi kemanusiaan adalah bagian dari pengabdian kepada Sang Pencipta. Matematika adalah cara membaca keteraturan alam, Biologi adalah cara mengagumi keajaiban ciptaan-Nya, dan Bahasa adalah alat untuk menyambung silaturahmi antarmanusia.
Tugas kita sebagai pendidik formal bukan untuk menyaingi kedudukan para kyai, melainkan untuk mengingatkan murid bahwa adab adalah pakaian yang harus dikenakan di mana pun mereka berada. Kita perlu menekankan bahwa seorang santri sejati justru terlihat dari bagaimana ia menghormati semua gurunya tanpa memandang subjek yang diajarkan. Kedisiplinan di sekolah dan kepatuhan di pesantren seharusnya menjadi dua sisi mata uang yang sama: karakter seorang pembelajar sejati.
Pada akhirnya, menghapus dikotomi ini adalah langkah besar menuju integritas diri murid. Ketika seorang murid mampu mencium tangan gurunya di sekolah dengan rasa hormat yang sama seperti ia mencium tangan kyainya di pesantren, saat itulah ia telah memahami hakikat ilmu yang sesungguhnya. Bahwa ilmu bukan untuk dikotak-kotakkan, melainkan untuk disatukan demi menjadi manusia yang utuh—manusia yang berilmu, beradab, dan bermanfaat bagi semesta.
Komentar
Posting Komentar