Mendekonstruksi Dikotomi Pendidikan: Harmonisasi Adab di Pesantren dan Sekolah
Dunia pendidikan kita sering kali terjebak dalam dikotomi yang tidak perlu: pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Fenomena ini melahirkan tantangan unik bagi para pendidik di sekolah formal, di mana sebagian murid yang juga mengenyam pendidikan di pesantren (santri) cenderung menomorduakan guru sekolah. Ada anggapan implisit bahwa ketaatan dan adab (ta’dzim) hanya wajib diberikan kepada kyai atau ustadz di pesantren, sementara guru di sekolah hanyalah pemberi materi teknis demi selembar ijazah. Padahal, jika kita merujuk pada esensi pencarian ilmu, adab tidak mengenal sekat dinding bangunan. Secara filosofis, guru—baik di pesantren maupun di sekolah—memiliki posisi setara sebagai "jembatan cahaya". Guru di pesantren memberikan fondasi moral, spiritual, dan hukum Tuhan yang menjadi kompas hidup. Sementara itu, guru di sekolah memberikan alat, logika, dan keterampilan bagi murid untuk mengelola dunia. Tanpa kompas, seseorang akan tersesat; namun tanpa alat, seseorang akan...