METODE PEMBELAJARAN AL-QUR'AN
a. Metode Iqro’
Metode
iqro’ adalah suatu metode membaca Al-Qur'an yang menekankan langsung pada
latihan membaca. Adapun buku panduan iqro’ terdiri dari 6 jilid di mulai dari
tingkat yang sederhana, tahap demi tahap sampai pada tingkatan yang sempurna.[1]
Metode
Iqro’ ini disusun oleh Ustadz As’ad Human yang berdomisili di Yogyakarta. Kitab
Iqro’ dari ke-enam jilid tersebut di tambah satu jilid lagi yang berisi tentang
doa-doa. Dalam setiap jilid terdapat petunjuk pembelajarannya dengan maksud
memudahkan setiap orang yang belajar maupun yang mengajar Al-Qur'an.
Metode
iqro’ ini dalam prakteknya tidak mem-butuhkan alat yang bermacam-macam, karena
ditekan-kan pada bacaannya (membaca huruf Al-Qur'an dengan fasih). Bacaan langsung
tanpa dieja. Artinya tidak diperkenalkan nama-nama huruf hijaiyah dengan cara
belajar siswa aktif (CBSA) dan lebih bersifat individual.
1. Kelebihan
a. Menggunakan
metode CBSA, jadi bukan guru yang aktif melainkan santri yang dituntut aktif.
b. Dalam
penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama) privat, maupun cara
eksistensi (santri yang lebih tinggi jilid-nya dapat menyimak bacaan temannya
yang berjilid rendah).
c. Komunikatif
artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan benar guru dapat memberikan
sanjungan, perhatian dan peng-hargaan.
d. Bila ada
santri yang sama tingkat pelajaran-nya, boleh dengan sistem tadarrus, secara
bergilir membaca sekitar dua baris sedang lainnya menyimak.
e. Bukunya
mudah di dapat di toko-toko.
2. Kekurangan
a. Bacaan-bacaan tajwid tak dikenalkan sejak dini.
b. Tak ada media belajar
c. Tak dianjurkan menggunakan irama murottal.
b. Metode Al-Baghdad
Metode
Al-Baghdady adalah metode tersusun (tarkibiyah), maksudnya yaitu suatu metode
yang tersusun secara berurutan dan merupakan sebuah proses ulang atau lebih
kita kenal dengan sebutan metode alif, ba’, ta’. Metode ini adalah metode yang
paling lama muncul dan metode yang pertama berkembang di Indonesia.
Cara
pembelajaran metode ini adalah:
- Hafalan
- Eja
- Modul
- Tidak variatif
- pemberian contoh yang
absolute
1. Kelebihan
Santri akan mudah dalam belajar karena sebelum diberikan materi,
santri sudah hafal huruf-huruf hijaiyah.
Santri yang lancar akan cepat melanjutkan pada materi selanjutnya
karena tidak menunggu orang lain.
2. Kekurangan
Membutuhkan waktu yang lama karena harus menghafal huruf hijaiyah
dahulu dan harus dieja.
Santri kurang aktif karena harus mengikuti ustadz-ustadznya dalam
membaca.
Kurang variatif karena menggunakan satu jilid saja.
c. Metode An-Nahdhiyah
Metode
An-Nahdhiyah adalah salah satu metode membaca Al-Qur'an yang muncul di daerah
Tulungagung, Jawa Timur. Metode ini disusun oleh sebuah lembaga pendidikan
Ma’arif Cabang Tulungagung. Karena metode ini merupakan metode pengembangan
dari metode Al-Baghdady, maka materi pembelajaran Al-Qur'an tidak jauh berbeda
dengan metode Qira’ati dan Iqro’. Dan perlu diketahui bahwa pembelajaran metode
ini lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan ketukan atau
lebih tepatnya pembelajaran Al-Qur'an pada metode ini lebih menekankan pada
kode “Ketukan”.
Dalam
pelaksanaan metode ini mempunyai dua program yang harus diselesaikan oleh para
santri, yaitu:
Program
buku paket yaitu program awal sebagai
dasar pembekalan untuk mengenal dan memahami serta mempraktekkan mem-baca
Al-Qur'an
Program
sorogan Al-Qur'an yaitu program lanjutan sebagai aplikasi praktis untuk
meng-antarkan santri mampu membaca Al-Qur'an sampai khatam.
Dalam
metode ini buku paketnya tidak dijual bebas bagi yang ingin menggunakannya atau
ingin menjadi guru pada metode ini harus sudah mengikuti penataran calon guru
metode An-Nahdhiyah.
Dalam
program sorogan Al-Qur'an ini santri akan diajarkan bagaimana cara-cara membaca
Al-Qur'an yang sesuai dengan sistem bacaan dalam membaca Al-Qur'an. Dimana
santri langsung praktek membaca Al-Qur'an besar. Disini santri akan
diperkenalkan beberapa sistem bacaan, yaitu
tartil, tahqiq, dan taghanni.
d. Metode Jibril
Terminology
(istilah) metode jibril yang digunakan sebagai nama dari pembelajaran Al-Qur'an
yang diterapkan di PIQ Singosari Malang, adalah dilatar belakangi perintah
Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengikuti bacaan Al-Qur'an yang telah
diwahyukan melalui malaikat Jibril. Menurut KH. M. Bashori Alwi (dalam
Taufiqur-rohman) sebagai pencetus metode jibril, bahwa teknik dasar metode
jibril bermula dengan membaca satu ayat atau lanjutan ayat atau waqaf, lalu
ditirukan oleh seluruh orang-orang yang mengaji. Sehingga mereka dapat
menirukan bacaan guru dengan pas. Metode jibril terdapat 2 tahap yaitu tahqiq
dan tartil.
e. Metode Qiro’ati
Metode
Qiro’ati disusun oleh Ustadz H. Dahlan Salim Zarkasy pada tahun 1986 bertepatan
pada tanggal 1 Juli. H.M Nur Shodiq Ahrom (sebagai penyusun didalam bukunya
“Sistem Qa'idah Qira’ati” Ngembul, Kalipare), metode ini ialah membaca
Al-Qur'an yang langsung memasukkan dan mempraktek-kan bacaan tartil sesuai
dengan qa'idah ilmu tajwid sistem pendidikan dan pengajaran metode Qira’ati ini
melalui system pendidikan berpusat pada murid dan kenaikan kelas/jilid tidak
ditentukan oleh bulan/tahun dan tidak secara klasikal, tapi secara individual
(perseorangan).
Santri/
anak didik dapat naik kelas/ jilid berikutnya dengan syarat:
1. Sudah menguasai
materi/paket pelajaran yang diberikan di kelas.
2. Lulus tes yang telah
diujikan oleh sekolah/TPA.
Komentar
Posting Komentar