HURUF HIJAIYAH

Pengertian Huruf Hijaiyah

Kata huruf  berasal dari bahasa arab harf atau huruuf (حرف او حروف). Huruf arab disebut juga huruf hija’iyah (هجائية) . Kata hija’iyah berasal dari kata kerja hajjaa  (هجى) yang artinya mengeja, menghitung huruf, membaca huruf demi huruf.[1] Huruf hija’iyah disebut pula huruuf tahjiyyah (حروف تهجية) .

Huruf Hijaiyah adalah kumpulan huruf-huruf Arab yang berjumlah 29. Huruf-huruf inilah yang terpakai dalam Al-Quran dan dikenal pada masa sekarang.[2] Kedua puluh sembilan huruf tersebut ialah:


Ada 3 (tiga) pendapat mengenai jumlah Huruf Arab / Huruf Hijaiyah[3]:

  1. Pendapat yang mengatakan berjumlah 30, menyertakan huruf Lam-Alif dan Hamzah.
  2. Pendapat yang mengatakan berjumlah 29, tidak menyertakan huruf Lam-Alif ke dalam Hijaiyah.
  3. Dan pendapat yang mengatakan berjumlah 28, tidak menyertakan Lam-Alif dan Hamzah.

Orang yang pertama kali menyusun huruf hijaiyah secara berurutan mulai dari alif sampai ya’ adalah Nashr Bin ‘Ashim Al-Laitsi[4](ناصر بن عاصم الليثي) . Cara menulis huruf Arab berbeda dengan huruf Latin. Kalau huruf Latin dari kiri ke kanan maka huruf Arab ditulis dari kanan ke kiri.

2.      Sejarah Perkembangan Huruf Hijaiyah

Menurut penelitian para sejarawan, tulisan Arab yang digunakan seperti sekarang ini berasal dari tulisan mesir kuno: Hieroglyph.[5] Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, Tulisan Arab mengalami proses penyempurnaan bentuk meskipun belum dibedakan. Hal ini terjadi setelah adanya pengaruh budaya dan peradaban oleh Suku Anbar dan Hirah (yang mendiami sepanjang sungai Eufrat) terhadap masyarakat Mesir pada waktu itu. Ciri huruf atau tulisan pada fase ini adalah huruf-huruf sudah ditulis secara bersambung, dan juga adanya penambahan beberapa huruf yang sebelumnya tidak ada. Seperti tsa’, dzal, dhad, dla’, dan ghin. Huruf mati –alif, wawu, dan ya’- juga telah dipergunakan sampai abad ke-6 M.

Pada akhir abad ke-6 M memasuki awal abad ke-7 M, mulai banyak orang Islam yang pandai baca-tulis, khususnya di kalangan pemudanya. Wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad oleh sebagian sahabat yang dapat menulis, dituliskan di atas pelepah kurma, kayu, tulang, lempung, batu, dan material lain yang dapat digunakan. Beberapa bagian al-Qur’an disimpan di masjid Nabi, di rumah Nabi Muhammad dan sebagian di rumah para sahabat nabi.

Dengan wafatnya nabi Muhammad pada tahun 623 M, dan gugurnya banyak pengikut Nabi Muhammad yang hafal seluruh al-Qur’an dalam perang, seperti perang yamamah, maka umat merasakan kebutuhan mendesak untuk mencatat wahyu dalam bentuk lebih permanen. Atas desakan Umar Bin Khattab, Abu Bakar memerintahkan Zaid Bin Tsabit –sekretaris Nabi- untuk menghimpun dan menulis semua ayat dalam susunan seperti yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW.

Model tulisan yang dipakai para sahabat Nabi dan orang Arab pada masa itu adalah tulisan hijazi[6]. Kemudian, pada masa selanjutnya terjadi penyempurnaan tulisan Arab. Meskipun secara harfiah tulisan hijazi sudah lengkap, namun masih belum sempurna, tanpa tanda baca titik dan harakat. Huruf-huruf yang sama bentuknya, tetapi berlainan ejaannya belum dibedakan dengan titik.

Proses penyempurnaan huruf-huruf hijaiyah ini terjadi sampai abad ke-8 M. tulisan atau huruf Arab yang sudah mengalami proses perubahan dan penyempurnaan itulah yang sekarang dipakai sebagi huruf Arab resmi internasional.

3.      Cara Penulisan Huruf Hijaiyah

Perhatikan perubahan-perubahan huruf hijaiyah berikut[7]:

Contoh

Di akhir

Di tengah

Di awal

Berdiri sendiri

Bunyi

Nama

ا ا ا

ـــــــا

ـــ

ـــ

ا

-

Alif

بــــبـــب

ـــــــب

ـــبــــ

بـــــــ

ب

B

Ba

تــتــــت

ـــــــت

ــــتـــــ

تـــــــ

ت

T

Ta

ثــــثـــث

ـــــــث

ـــــثــــ

ثـــــــ

ث

Ts

Tsa

جـــجــج

ـــــــج

ـــجـــــ

جــــــ

ج

J

Jim

حـــحـــح

ـــــــح

ــــحــــ

حــــــ

ح

H

ha

خــخـــخ

ـــــــخ

ـــــخــــ

خــــــ

خ

Kh

Kho

د د د

ـــــــد

ـــ

ـــ

د

D

Dal

ذ ذ ذ

ـــــــذ

ـــ

ـــ

ذ

Dz

Dzal

ر ر ر

ــــــر

ـــ

ـــ

ر

R

Ra

ز ز ز

ــــــز

ـــ

ـــ

ز

Z

Za

ســســس

ـــــس

ـــســـ

ســـــ

س

S

Sin

شــشــش

ـــــش

ــــشـــ

شـــــ

ش

Sy

Syin

صــصــص

ــــص

ــــصـــ

صــــ

ص

Sh

Shod

ضــضــض

ــــض

ــــضـــ

ضــــ

ض

Dh

Dhad

طــطـــط

ــــــط

ــــطـــ

طــــــ

ط

Th

Tha

ظـــظـــظ

ــــــظ

ـــــظـــ

ظــــــ

ظ

Zh

Zho

عــعــــع

ــــــع

ـــــعــــ

عــــــ

ع

‘ain

غـــغـــغ

ــــــغ

ـــــغـــ

غــــــ

غ

Gh

Ghain

فـــفــــف

ــــــف

ـــــفــــ

فـــــــ

ف

F

Fa

قـــقــــق

ــــــق

ـــــقـــ

قــــــ

ق

Q

Qaf

كـــكـــك

ــــــك

ــــكــــ

كــــــ

ك

K

Kaf

لـــلــــل

ــــــل

ــــلــــ

لــــــ

ل

L

Lam

مـــمــــم

ــــــم

ــــمــــ

مـــــ

م

M

Min

نـــنـــن

ــــــن

ــــنــــ

نـــــ

ن

N

Nun

و و و

ــــــــو

ـــ

ـــ

و

W

Wawu

هـــهـــه

ــــــــه

ـــهــــ

هــــــ

ه

H

Ha

ـــــــلا

ـــــــلا

لا

L

Lam alif

—-

—-

ء

Hamzah

يــيـــي

ــــــي

ـــــيـــ

يــــــ

ي

Y

Ya

 

4.      Transliterasi

Kata transliterasi berasal dari kosa kata bahasa Inggris transliteration, yaitu transyang berarti pindah, alih, ganti dan literation yang berarti liter, huruf. Jadi, bisa disimpulkan bahwa  transliterasi huruf Arab Latin adalah penggantian huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lainnya.[8]

a.       Konsonan

Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, dalam transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan sebagian dilambangkan dengan tanda, dan sebagian lain lagi dengan huruf dan tanda sekaligus.

b.      Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal (monoftong) dan vokal rangkap (diftong ), serta madd.

a)      Vokal tunggal (monoftong)

No

Huruf Arab

Huruf Latin

Keterangan

1

َ

A

Fathah

2

ِ

I

Kasrah

3

ٌ

U

Dammah

b)      Vokal rangkap (diftong)

No

Huruf Arab

Huruf Latin

Keterangan

1

ي           .

Ai

a dengan i

2

و            .

Au

a dengan u

c)      Vokal panjang  (madd)

No

Huruf Arab

Huruf Latin

Keterangan

1

اﻳ

Â

a dengan topi di atas

2

ي

Î

i dengan topi di atas

3

ىو

Û

u dengan topi di atas

Contoh:

قال : qâla

رمى : ramâ

c.       Ta marbûtah

Ta marbûtah ini diatur dalam tiga katagori:

a)      huruf ta marbûtah pada kata berdiri sendiri, huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /h/, misalnya: محكمة menjadi mahkamah.

b)      jika huruf ta marbûtah diikuti oleh kata sifat (na’at), huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /h/ juga, misalnya:المدينة المنورة  menjadi  al-madÎnah al-munawarah.

c)      Jika hurup ta marbûtah  diikuti oleh kata benda (ism), huruf  tersebut ditransliterasikan menjadi /t/ misalnya:روضة الأطفال  menjadi raudat al-atfâl.

d.      Syaddah (Tasydîd)

Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda, tanda syaddah atau tanda tasydid, dalam transliterasi ini tandasyaddah tersebut dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda syaddah itu. Contoh:

 نزّل : nazzala

ربّنا  : rabbanâ                              

e.       Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu ال. Namun, dalam transliterasi menjadi /al-/ baik yang diikuti oleh huruf syamsiahmaupun kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariah, misalnya : الفيل (al-fîl), الوجود  (al-wujûd), dan الشمس (al-syams bukan asy-syams).

f.       Hamzah

Bila hamzah itu terletak diawal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab berupa alif.

Contoh:

تاخذون   : ta’khudzuna

النّوء      : an-na’u

اكل        : akala

انّ         : inna

g.      Huruf Kapital

Huruf kapital digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri dan permulaan kalimat. Bila nama diri itu didahului oleh kata sandang (artikel), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya, seperti: al-Kindi, al-Farobi, Abu Hamid al-Ghazali, dan lain-lain (bukan Al-Kindi, Al-Farobi, Abu Hamid Al-Ghazali). Transliterasi ini tidak disarankan untuk dipakai pada penulisan orang yang berasal dari dunia nusantara, seperti Abdussamad al-Palimbani bukan Abd al-Shamad al-Palimbani.

h.      Cara Penulisan Kata

Setiap kata, baik kata kerja (fi’il), kata benda (ism), maupun huruf (harf) ditulis secara terpisah.

Contoh:

الخلفاء الراشدين : al-Khulafa al-Rasyidin

صلة الرحم         : silat al-Rahm

الكتب الستة        : al-Kutub al-Sittah



[1] Jamaluddin Muhammad Bin Mukrom Ibn Mandur Al-Afriki, Lisan Al-Arab (Beirut Libanon: Dar Al-Kutub, 1990), juz 10:371. Lihat Muhyidin, Sekilas Sejarah Tulisan Bahasa Arab, tersedia: http://semprulle44.blogspot.co.id//, diakses 19 September 2015.

[2] Acep Iim Abdurrohim, Pedoman Tajwid Lengkap, (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2003),  h. 17.

[3] Semar Lelono, Huruf Arab / Huruf Hijaiyah,  tersedia: http://belajar4bisa.blogspot.co.id//, diakses 20 September 2015.

[4] Dalam tulisan Zam Zam Afandi dikatakan ‘Ashim Al-Laitsi adalah salah satu orang yang diperdebatkan sebagai salah satu orang yang pertama kali menyusun ilmu nahwu selain Abu Aswad, Ali Bin Abi Tholib, Umar Bin Khattab dan Abdul Rahman Bin Hurmuz dalam Adabiyyat, vol 1 Maret 2003.  Lihat Muhyidin, Loc.Cit

[5] Abd. Karim Husain, Seni Kaligrafi Khat Naskhi,Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab Dengan Metode Komparatif (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1988).  Teori tentang asal mula tulisan Arab sangat banyak. Pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama kali menulis dengan menggunakan huruf Arab adalah Nabi Ismail. Namun saat itu semua huruf-hurufnya bersambung, meskipun wawu atau ra’. Kemudian dua anaknya, Qaidar dan Hamaisa’ melakukan pemisahan pada huruf-huruf yang bersambung tersebut. Selengkapnya lihat Nasr Al-Huwairini, Qawaid Al-Imla’ (Lebanon: Muassasah Al-Risalah, Beirut, 2001), 18. Lihat pula Jurja Zaidan, 161-162. Lihat Muhyidin, Ibid.

[6] yaitu bentuk tulisan yang merupakan penyempurnaan dari rentetan pertumbuhan dan perkembangan tulisan Arab dalam proses mencari bentuk kesempurnaan huruf yang memenuhi kebutuhan bahasa

[7] Anton Taufiq, Perubahan Huruf Hijaiyah, tersedia: http://ilmufasapai.blogspot.co.id//, diakses 20 September 2015

[8] Wahyudin, Transliterasi Huruf Arab latin, tersedia: http://elwahyudin.blogspot.co.id//, diakses 20 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH PONDOK PESANTREN AL-MUNAWWAR JARNAUZIYYAH

BIOGRAFI SINGKAT MAMA PASIRBOKOR, KH MOCH JARNAUZI

SILSILAH SANAD KEILMUAN PONDOK PESANTREN PASIRBOKOR