ETIKA PERGAULAN REMAJA DAN CARA MEMILIH TEMAN YANG BAIK DALAM PANDANGAN ISLAM
ETIKA PERGAULAN REMAJA DAN CARA MEMILIH TEMAN YANG BAIK DALAM PANDANGAN ISLAM
Oleh: Rifa Ratna Tsania
Masa remaja adalah suatu periode
atau masa tumbuhnya seseorang dalam masa transisi dari masa kanak-kanak menuju
dewasa. Masa ini biasanya diikuti
keguncangan emosi, kebimbangan dalam mencari pegangan hidup, serta kesibukan
mencari bekal pengetahuan dan kepandaian untuk menjadi senjata pada usia
dewasa. Labilnya emosi remaja menyebabkan mereka mudah terpengaruh dan
rentan terhadap pemberian nilai. Sehingga pada
masa ini, remaja lebih sering berinteraksi dengan temannya dalam bentuk
pergaulan dibanding dengan keluarganya. Teman dalam pergaulan merupakan cerminan
diri perilaku seseorang. Dalam hal ini, Islam telah mengatur tata cara bergaul
dan memilih sosok teman yang baik.
Bagaimana etika pergaulan remaja
dalam pandangan Islam? Lalu bagaimana cara memilih teman yang baik menurut Islam? Berikut penjabaran mengenai etika pergaulan remaja
dan cara memilih teman yang baik dalam pandangan Islam.
Pengertian Pergaulan
Remaja
Remaja berasal
dari kata latin adolesence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi
dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang
mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja
sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan
anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.
Menurut Erikson (dalam Hurlock, 1990) masa remaja adalah
masa kritis identitas atau masalah identitas – ego remaja. Identitas diri yang
dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya
dalam masyarakat, serta usaha mencari perasaan kesinambungan dan kesamaan baru
para remaja harus memperjuangkan kembali dan seseorang akan siap menempatkan
idola dan ideal seseorang sebagai pembimbing dalam mencapai identitas akhir.
Sedangkan pergaulan merupakan
proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh
individu dengan kelompok. Bergaul berarti hidup
berteman (bersahabat). Dan merupakan cara kita menyesuaikan diri dengan orang
lain dan belajar cara hidup serta berfikir di lingkungan mana saja kita berada
dengan adanya aturan-aturan yang mengikat sehingga membentuk kepribadian
seseorang.
Karakteristik Pergaulan Remaja
Seperti yang dikemukakan oleh
Aristoteles, bahwa manusia sebagai makhluk sosial (zoon-politicon), yang
artinya manusia sebagai makhluk sosial yang tak lepas dari kebersamaan dengan
manusia lain. Pergaulan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan
kepribadian seorang individu. Pergaulan yang ia lakukan itu akan mencerminkan
kepribadiannya, baik pergaulan yang positif maupun pergaulan yang negatif. Pergaulan yang memberikan pengaruh yang baik
(positif) akan mewujudkan suatu nilai yang baik pula dan sebaliknya.
Di dalam pergaulan terdapat
interaksi nilai yang dianut seseorang. Bisa saja nilai yang dulu dianggap baik
dapat berubah menjadi nilai yang buruk setelah interaksi atau penglihatan yang
dialaminya dalam pergaulan. Tetapi itu tergantung dari remaja tersebut, apakah
ia bertahan terhadap nilai yang telah dianutnya atau akan merubahnya. Di dalam
perkembangan, hal ini mungkin saja terjadi. Misalnya menceritakan hal-hal yang
buruk/kejelelkan orang lain. Yang dulunya dianggap biasa saja, setelah
pergaulan yang membawa nilai positif melalui pembelajaran nilai tersebut
berubah menjadi buruk.
Pergaulan pada masa remaja turut
menentukan nilai yang dianutnya. Pergaulan menjadi hal yang penting pada masa
remaja. Pada saat itu pergaulan menentukan sikap/tingkah laku dari nilai yang
dan seseorang. Pergaulan yang baik akan menciptakan nilai yang baik dan
sebaliknya. Remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak yang sangat
rawan dalam penentuan nilai. Ditekankan sekali lagi bahwa pada masa remaja,
seseorang lebih sering berinteraksi dengan temannya dalam bentuk pergaulan
dibanding dengan keluarganya.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pergaulan Remaja
Sebagai makhluk sosial,
individu di tuntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul
sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan
diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Begitu juga dengan pergaulan
pada remaja, ada beberapa faktor yang bisa memengaruhinya antara lain :
1. Kondisi
fisik
Penampilan fisik merupakan
aspek penting bagi remaja dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Mereka
biasanya mempunyai standar-standar tertentu tentang sosok fisik ideal yang
mereka dambakan. Misalnya, standar cantik adalah postur tinggi, tubuh langsing
dan berkulit putih. Namun tentu saja tidak semua remaja memiliki kondisi fisik
se ideal itu. Karenanya, remaja harus bisa belajar menerima dan memanfaatkan
bagaimanapun kondisi fisik seefektif mungkin. Remaja harus menanamkan keyakinan
bahwa keindahan lahiriah bukannya makna kecantikan yang sesungguhnya.
Kecantikan sejati justru bersumber dari hati nurani, akhlak, serta kepribadian
yang baik.
2. Kebebasan
Emosional
Pada umumnya, remaja ingin
memperoleh kebebasan emosional. Mereka ingin bebas melakukan apa saja yang
mereka sukai. Dalam masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, seorang remaja
senantiasa berusaha agar pendapat atau pikiran-pikirannya, diakui dan disejajarkan
dengan orang dewasa. Dengan demikian, jika terjadi perbedaan pendapat anatara
anak dan orang tua, maka pendekatan yang bersifat demokratis dan terbuka akan
terasa lebih bijaksana.
Salah satu cara yang dapat
dilakukan adalah membangun rasa saling pengertian dimana masing-masing pihak
berusaha memahami sudut pandang pihak lain. Saling pengertian juga dapat
dibangkitkan dengan bertukar pengalaman atau dengan melakukan beberapa
aktivitas tertentu bersama-sama dimana orang tua dapat menempatkan diri pada
situasi remaja dan sebaliknya. Inti dari metode pemecahan konflik yang aman
antara orang tua dan anak adalah menjadi pendengar yang aktif.
3. Interaksi
sosial
Kemampuan untuk melakukan
interaksi sosial juga sangat penting dalam membentuk konsep diri yang positip,
sehingga seseorang mampu melihat dirinya sebagai orang yang kompeten dan
disenangi oleh lingkungan. Dia memiliki gambaran yang wajar tentang dirinya sesuai
dengan kenyataan yang ada (tidak di kurangi atau dilebih-lebihkan).
4. Pengetahuan
terhadap kemampuan diri
Setiap kelebihan atau potensi
yang ada dalam diri manusia sesungguhnya bersifat laten. Artinya harus terus
digali dan dan terus dirangsang agar keluar secara optimal. Kita melihat sejauh
mana potensi itu ada dan dijalur mana potensi itu terkonsentrasi untuk
selanjutnya diperdalam, hingga dapat melahirkan karya yang berarti. Dengan
menerima kemampuan diri secara positif, seorang remaja diharapkan lebih mampu
menentukan keputusan yang tepat terhadap apa yang akan ia jalani, seperti
memilih sekolah atau jenis kegiatan yang diikuti.
5. Penguasaan
diri terhadap nilai-nilai moral dan agama
William James, seorang
psikolog yang mendalami psikologi agama, mengatakan bahwa orang yang memiliki
komitmen terhadap nilai-nilai agama cenderung mempunyai jiwa yang lebih sehat.
Kondisi tersebut ditampilkan dengan sikap positif, optimis, spontan, bahagia,
serta penuh gairah dan vitalitas. Sebaliknya, orang yang memandang agama
sebagai suatu kebiasaan yang membosankan atau perjuangan yang berat dan penuh
beban akan memiliki jiwa yang sakit. Dia akan dihinggapi oleh penyesalan diri,
rasa bersalah, murung, serta tertekan.
Etika Pergaulan Remaja dalam
Pandangan Islam
Islam telah mengatur perilaku dalam remaja. Perilaku tersebut merupakan
batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku
tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja.
Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah :
1.
Menutup Aurat
Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurot demi
menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurot merupakan anggota tubuh yang
harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya
terutama kepada lawan jenis agar tidak boleh kepada jenis agar tidak
membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah.
Aurat bagi laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut
sedangkan aurot bagi wanita yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan kedua
telapak tangan. Di samping aurat, Pakaian yang di kenakan tidak boleh ketat
sehingga memperhatikan lekuk anggota tubuh, dan juga tidak boleh transparan
atau tipis sehingga tembus pandang.
2.
Menjauhi perbuatan zina
Pergaulan antara laki-laki dengan perempuan di perbolehkan sampai pada
batas tidak membuka peluang terjadinya perbuatan dosa. Islam adalah agama yang
menjaga kesucian, pergaulan di dalam islam adalah pergaulan yang dilandasi oleh
nilai-nilai kesucian. Dalam pergaulan dengan lawan jenis harus dijaga jarak
sehingga tidak ada kesempatan terjadinya kejahatan seksual yang pada gilirannya
akan merusak bagi pelaku maupun bagi masyarakat umum. Dalam Al-Qur’an Allah
berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 32:
Artinya: “Dan
janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. dan suatu jalan yang buruk”.
Dalam rangka menjaga kesucian pergaulan remaja agar terhindar dari
perbuatan zina, islam telah membuat batasan-batasan sebagai berikut :
a. Laki-laki tidak
boleh berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Jika laki-laki dan
perempuan di tempat sepi maka yang ketiga adalah syetan, mula-mula saling
berpandangan, lalu berpegangan, dan akhirnya menjurus pada perzinaan, itu semua
adalah bujuk rayu syetan.
b. Laki-laki dan
perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bersentuhan secara fisik. Saling
bersentuhan yang dilarang dalam islam adalah sentuhan yang disengaja dan
disertai nafsu birahi. Tetapi bersentuhan yang tidak disengaja tanpa disertai nafsu
birahi tidaklah dilarang.
Tata Cara
Pergaulan Remaja
Semua agama dan tradisi telah mengatur tata cara pergaulan remaja. Ajaran
islam sebagai pedoman hidup umatnya, juga telah mengatur tata cara pergaulan
remaja yang dilandasi nilai-nilai agama. Tata cara itu meliputi:
a.
Mengucapkan Salam
Ucapan salam ketika bertemu dengan teman atau orang lain sesama muslim,
ucapan salam adalah do’a. Berarti dengan ucapan salam kita telah mendoakan
teman tersebut.
b.
Meminta Izin
Meminta izin di sini dalam artian kita tidak boleh meremehkan hak-hak atau
milik teman apabila kita hendak menggunakan barang milik teman maka kita harus
meminta izin terlebih dahulu.
c.
Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda
Remaja sebagai orang yang lebih muda sebaiknya menghormati yang lebih tua
dan mengambil pelajaran dari hidup mereka. Selain itu, remaja juga harus
menyayangi kepada adik yang lebih muda darinya, dan yang paling penting adalah
memberikan tuntunan dan bimbingan kepada mereka ke jalan yang benar dan penuh
kasih sayang.
d.
Bersikap santun dan tidak sombong
Dalam bergaul, penekanan perilaku yang baik sangat ditekankan agar teman
bisa merasa nyaman berteman dengan kita. Kemudian sikap dasar remaja yang
biasanya ingin terlihat lebih dari temannya sungguh tidak diterapkan dalam
islam bahkan sombong merupakan sifat tercela yang dibenci Allah.
e.
Berbicara dengan perkataan yang sopan
Islam mengajarkan bahwa bila kita berkata, utamakanlah perkataan yang
bermanfaat, dengan suara yang lembut, dengan gaya yang wajar dan tidak bual.
f.
Tidak boleh saling menghina
Menghina / mengumpat hukumnya dilarang dalam islam sehingga dalam pergaulan
sebaiknya hindari saling menghina di antara teman.
g.
Tak boleh saling membenci dan iri hati
Rasa iri akan berdampak dapat berkembang menjadi kebencian yang pada
akhirnya mengakibatkan putusnya hubungan baik di antara teman. Iri hati
merupakan penyakit hati yang membuat hati kita dapat merasakan ketenangan serta
merupakan sifat tercela baik di hadapan Allah dan manusia.
h.
Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat
Masa remaja sebaiknya dipergunakan untuk
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat remaja harus membagi waktunya dengan
subjektif dan efisien, dengan cara membagi waktu menjadi 3 bagian yaitu :
sepertiga untuk beribadah kepada Allah, sepertiga untuk dirinya dan sepertiga
lagi untuk orang lain.
i.
Mengajak untuk berbuat kebaikan
Orang yang memberi petunjuk kepada teman ke jalan
yang benar akan mendapatkan pahala seperti teman yang melakukan kebaikan itu,
dan ajakan untuk berbuat kebajikan merupakan suatu bentuk kasih sayang terhadap
teman.
Demikian beberapa tata cara pergaulan remaja yang dilandasi nilai-nilai moral
dan ajaran islam. Tata cara tersebut hendaknya dijadikan pedoman bagi remaja
dalam bergaul dengan teman-temannya.
Cara Memilih Teman yang Baik dalam Islam
Ada pepatah yang mengatakan “Mempunyai seribu teman jauh lebih baik dibandingkan
memiliki satu musuh” semakin banyak teman yang dimiliki, semakin banyak
pula kita bisa mengambil manfa’at persahabatan. “That’s Friends are For !”
Tetapi itu bukan berarti, seseorang boleh semaunya bergaul
dengan sembarang orang menurut selera nafsunya. Teman adalah personifikasi
diri. Manusia selalu memilih teman yang mirip dengannya dalam hobi,
kecenderungan, pandangan, pemikiran. Karena itu, Islam memberi batasan-batasan
yang jelas dalam soal pertemanan.
a.
Hati-hati memilih sahabat
Di dalam kitab Al-Hikam, Syaikh Ibn ‘Atha’illah berpesan,
berhati-hatilah di dalam memilih sahabat. Sebab, sosok sahabat mampu mengawal
kita menuju keridhaan Allah. Namun dia juga sanggup menggiring kita menuju
jurang kehancuran dan kesia-siaan, serta murka-Nya.
“Janganlah engkau bersahabat
dengan orang yang keadaannya tidak membangkitkan semangatmu, dan pembicaraannya
tidak membimbingmu ke jalan Allah.
Boleh jadi engkau
berbuat buruk, tetapi tampak olehmu sebagai kebaikan lantaran engkau bersahabat
dengan tingkah lakunya lebih buruk darimu.”
Dalam sya’iran kitabTa’lim Al-muta’alim juga dikatakan, yang
artinya:
“Bila ada teman yang
melakukan kejelekan atau kejahatan maka segeralah untuk menjauhinya, dan jika
ada teman kamu yang melakukan kebaikan, maka segeralah mendekatinya, karena orang
baik itu akan menunjukkan jalan lurus kepada kita.
Apabila berteman
orang yang tidak baik maka kita akan menjadi tidak baik, perbuatan tidak baik
itu kan lebih cepat memengaruhi orang lain.
Orang yang benar atau
baik adalah orang yang dapat menunjukkan kebenaran atau mengajak kebenaran.
Kita harus dapat menjaga kebaikan itu jika ingin terus menjadikan orang muslim
kepribadian baik.”
Teman atau sahabat memiliki pengaruh yang sangat besar.
Bahkan, seorang sahabat dianggap sebagai cerminan diri seseorang. Kita juga
dapat menyimpulkan sosok seorang dari melihat dengan siapa saja orang itu
bersahabat. Rasulullah SAW bersabda:
“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya
salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Makna hadits di atas adalah seseorang akan berbicara dan
ber-perilaku seperti kebiasaan kawannya. Karena itu beliau Shalallaahu
alaihi wasalam mengingatkan agar kita cermat dalam memilih teman. Kita harus
kenali kualitas beragama dan akhlak kawan kita. Bila ia seorang yang shalih, ia
boleh kita temani. Sebaliknya, bila ia seorang yang buruk akhlaknya dan suka
melanggar ajaran agama, kita harus menjauhinya. Rasulullah SAW bersabda:
“Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan
memakan makan-anmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad dihasankan oleh
al-Albani)
Termasuk dalam larangan di atas adalah berteman dengan
pelaku dosa-dosa besar dan ahli maksiat, lebih-lebih berteman dengan
orang-orang kafir dan munafik. Khathabi berkata, yang dimaksud dengan
jangan memakan makananmu, kecuali orang yang bertakwa adalah dengan cara
mengundang mereka dalam suatu jamuan makan. Sebab jamuan makan bisa melahirkan
rasa kasih sayang dan cinta di antara yang hadir. Adapun makanan yang memang
dibutuhkan oleh mereka, maka tidak apa-apa diberikan. Allah berfirman, artinya,
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang
miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8).
Dan yang ditawan bisa saja adalah orang-orang kafir.
Demikian juga dalam pergaulan yang sifatnya umum seperti bertetangga, jual beli
dan sebagainya, maka hukumnya masuk dalam hukum muamalah, di mana kita boleh
bermuamalah dengan siapa saja, muslim maupun non muslim.
b.
Cinta Karena Allah
Persahabatan yang paling agung adalah persahabatan yang
dijalin di jalan Allah dan karena Allah, bukan untuk mendapatkan manfaat dunia,
materi, jabatan atau sejenisnya. Persahabatan yang dijalin untuk saling
mendapatkan keuntungan duniawi sifatnya sangat sementara. Bila keuntungan
tersebut telah sirna, maka persahabatan pun putus.
Berbeda dengan persahabatan yang dijalin karena Allah, tidak
ada tujuan apa pun dalam persahabatan mereka, selain untuk mendapatkan ridha
Allah. Orang yang semacam inilah yang kelak pada Hari Kiamat akan mendapat
janji Allah. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana
orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku
lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali
per-lindungan-Ku.” (HR. Muslim)
Dari Mu’adz bin Jabalzia berkata,
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
“Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai
karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban
karena Aku.” (HR. Ahmad).
Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadits Abu
Hurairah r.a, diceritakan,
“Dahulu ada seorang laki-laki yang berkunjung kepada saudara
(temannya) di desa lain. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Ke mana anda hendak pergi?
Saya akan mengunjungi teman saya di desa ini’, jawabnya, ‘Adakah suatu
kenikmatan yang anda harap darinya?’ ‘Tidak ada, selain bahwa saya
mencintainya karena Allah Azza wa Jalla’, jawabnya. Maka orang yang bertanya ini
mengaku, “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepadamu (untuk
menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah
mencintai temanmu karena Dia.”
c.
Ungkapkan Cinta Karena Allah
Anas r.a meriwayatkan, “Ada
seorang laki-laki di sisi Nabi SAW. Tiba-tiba ada sahabat lain yang berlalu.
Laki-laki tersebut lalu berkata, “Ya Rasulullah, sungguh saya mencintai orang
itu (karena Allah)”. Maka Nabi SAW bertanya “Apakah engkau telah memberitahukan
kepadanya?” “Belum”, jawab laki-laki itu. Nabi bersabda, “Maka bangkit dan
beritahukanlah padanya, niscaya akan mengokohkan kasih sayang di antara
kalian.” Lalu ia bangkit dan memberitahukan, “Sungguh saya mencintai anda
karena Allah.” Maka orang ini berkata, “Semoga Allah mencintaimu, yang engkau
mencintaiku karena-Nya.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).
Hal yang harus diperhatikan oleh orang yang saling mencintai
karena Allah adalah untuk terus melakukan evaluasi diri dari waktu ke waktu.
d.
Lemah Lembut, Bermuka Manis dan
Saling Memberi Hadiah
Paling tidak, saat bertemu dengan teman hendaknya kita
selalu dalam keadaan wajah berseri-seri dan menyungging senyum. Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
“Jangan sepelekan kebaikan sekecil apapun, meski hanya
dengan menjum-pai saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim dan
Tirmidzi).
Dalam sebuah hadis riwayat Aisyah r.a disebutkan, bahwasanya:
“Allah mencintai kelemah-lembutan dalam segala sesuatu.”
(HR. al-Bukhari).
Dalam hadis lain riwayat Muslim
disebutkan bahwa “Allah itu Maha Lemah-Lembut, senang kepada
kelembut-an. Ia memberikan kepada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan-Nya
kepada kekerasan, juga tidak diberikan kepada selainnya.”
Termasuk yang membantu langgengnya cinta dan kasih sayang
adalah saling memberi hadiah di antara sesama teman. Rasulullah SAW bersabda:
“Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang
kedengkian. Saling memberi hadiah lah kalian, niscaya kalian saling mencintai
dan hilang (dari kalian) kebencian.” (HR. Imam Malik).
e.
Saling Memberi Nasihat
Dalam Islam, prinsip menolong teman adalah bukan berdasar
permintaan dan keinginan hawa nafsu teman. Tetapi prinsip menolong teman adalah
keinginan untuk menunjukkan dan memberi kebaikan, menjelaskan kebenaran dan
tidak menipu serta berbasa-basi dengan mereka dalam urusan agama Allah.
Termasuk di dalamnya adalah amar ma’ruf nahi mungkar, meskipun bertentangan
dengan keinginan teman. Adapun mengikuti kemauan teman yang keliru dengan
alasan solidaritas, atau berbasa-basi dengan mereka atas nama persahabatan, supaya
mereka tidak lari dan meninggalkan kita, maka yang demikian ini bukanlah
tuntunan Islam. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Q.S.Al-Maidah:
2)
f.
Berlapang Dada dan Berbaik Sangka
Salah satu sifat utama penebar kedamaian dan perekat ikatan
persaudaraan adalah lapang dada. Orang yang berlapang dada adalah orang yang
pandai memahami berbagai keadaan dan sikap orang lain, baik yang menyenangkan
maupun yang menjengkelkan. Ia tidak membalas kejahatan dan kezhaliman dengan
kejahatan dan kezhaliman yang sejenis, juga tidak iri dan dengki kepada
orang lain. Rasulullah SAW bersabda:
”Seorang mukmin itu tidak punya siasat untuk kejahatan dan
selalu (berakhlak) mulia, sedang orang yang fajir (tukang maksiat) adalah orang
yang bersiasat untuk kejahatan dan buruk akhlaknya.” ( HR. Tirmidzi,
Al-Albani berkata “hasan”)
Karena itu Nabi SAW mengajarkan
agar kita berdo’a dengan: ”Dan lucutilah kedengkian dalam hati- ku.”
(HR. Abu Daud, Al-Albani berkata ‘shahih’)
Termasuk bumbu pergaulan dan persaudaraan adalah berbaik
sangka kepada sesama teman, yaitu selalu berfikir positif dan memaknai
setiap sikap dan ucapan orang lain dengan persepsi dan gambaran yang
baik, tidak ditafsirkan negatif.
Nabi SAW bersabda, “Jauhilah oleh kalian berburuk
sangka, karena buruk sangka adalah pembicaraan yang paling dusta”
(HR.Bukhari dan Muslim).
Yang dimaksud dengan berburuk sangka di sini adalah dugaan
yang tanpa dasar.
g.
Menjaga Rahasia
Setiap orang punya rahasia. Biasa-nya, rahasia itu
disampaikan kepada teman terdekat atau yang dipercayainya. Anas r.a pernah
diberi tahu tentang suatu rahasia oleh Nabi SAW.
Anas r.a berkata, “Nabi SAW merahasiakan kepadaku suatu
rahasia. Saya tidak menceritakan tentang rahasia itu kepada seorang pun
setelah beliau (wafat). Ummu Sulaim pernah menanyakannya, tetapi aku tidak
memberitahukannya.” (HR. Al-Bukhari).
Teman dan saudara sejati adalah teman yang bisa menjaga
rahasia temannya. Orang yang membeberkan rahasia temannya adalah seorang pengkhianat
terhadap amanat. Berkhianat terhadap amanat adalah termasuk salah satu sifat
orang munafik.
Persahabatan yang dijalin karena
kepentingan duniawi tidak mungkin bisa langgeng. Bila manfaat duniawi sudah tidak diperoleh biasanya mereka
dengan sendirinya berpisah bahkan mungkin saling bermusuhan. Berbeda
dengan persahabatan yang dijalin karena Allah, mereka akan menjadi saudara yang
saling mengasihi dan saling membantu, dan persaudaraan itu tetap akan
berlanjut hingga di negeri Akhirat. Allah
SWT berfirman, yang artinya:
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh
bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS.
Az-Zukhruf: 67).
REFERENSI:
-
As-sakandari, Syaikh Ibn
‘Atha’illah. 2010. KITAB AL-HIKAM,
Petuah-petuah Agung Sang Guru. Edisi ke 3. Diterjemahkan oleh: Dr.Ismail
Ba’adillah. Jakarta: Khatulistiwa Press.
-
Az-Zarnuji. 2009. Panduan Akhlak Guru dan Murid.
Diterjemahkan oleh: Faturrohman. Semarang: Aneka Ilmu.
-
Anonim.(2009). “Etika
pergaulan remaja dalam pandangan islam”. Tersedia: http://duniaremaja99.blogspot.com/2010/10/etika-pergaulan-remaja-dalam-pandangan.html.
[Oktober 2010]
-
Anonim. (2011).
“Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pergaulan Remaja”. Tersedia: http://bundabeka07.wordpress.com/2011/12/29/faktor-faktor-yang-memengaruhi-pergaulan-remaja/.
[29 Desember 2011]
-
Anonim. (2011). “Pergaulan
Remaja”. Tersedia: http://pergaulanremaja-1992.blogspot.com/2011/11/blog-post.html. [07 November 2011]
-
Anonim. (2008). “Remaja,
pengertian dan definisinya”. Tersedia: http://www.duniapsikologi.com/remaja-pengertian-dan-definisinya/. [12 September 2011]
-
Emy, Dini. (2012).
“Pertemanan dalam islam”. Tersedia: http://utaratu.wordpress.com/2012/06/04/pertemanan-dalam-islam/.
[04 Juni 2012]
Komentar
Posting Komentar